Hmm… begini, Ayah Bunda.
Kadang kita sudah merasa, “Saya sudah sering menasihati anak saya supaya jujur, tapi kok dia masih aja bohong ya?” Tenang dulu. Ini bukan berarti anak kita nakal atau rusak akhlaknya. Bisa jadi, cara otak anak memproses rasa takut, malu, atau ingin diterima itu yang sedang “berbicara”.
Saya pernah baca satu penelitian menarik dari University of Toronto yang dilakukan oleh Prof. Kang Lee. Dalam risetnya disebutkan bahwa anak mulai bisa berbohong sejak usia 2-3 tahun(1) — dan ini bukan karena mereka jahat, tapi karena kemampuan berpikir mereka (yang disebut theory of mind) mulai berkembang. Artinya, anak mulai paham bahwa orang lain tidak selalu tahu apa yang dia tahu. Nah, kemampuan ini yang bisa membuat anak mencoba memanipulasi kebenaran.
Coba kita renungkan, Ayah Bunda. Pernah nggak, anak bohong karena takut dimarahi? Atau karena dia ingin membuat kita senang, biar tidak kecewa? Itu artinya bukan semata-mata soal moral, tapi soal rasa aman. Anak akan jujur kalau ia merasa aman untuk berkata jujur. Jadi, bukan sekadar “nasihat tentang jujur” yang dibutuhkan, tapi juga suasana hati yang membuat anak berani jujur.
Ayah Bunda bisa coba pahami dulu ya, bahwa ketika anak berbohong, dia sedang melindungi dirinya. Entah dari rasa takut, rasa bersalah, atau rasa malu. Tugas kita adalah membantunya menata perasaan itu, bukan langsung menghakimi.
Tipsnya begini: kalau anak berbohong, jangan langsung bertanya dengan nada menghakimi seperti, “Kamu bohong, ya?” Coba ganti dengan pendekatan empatik, “Bunda tahu mungkin kamu takut cerita sebenarnya. Tapi bunda pengen bantu kamu biar tenang. Yuk, ceritain yang sebenarnya.” Nada seperti ini membuat otak anak lebih terbuka — amygdala (pusat emosi takut) jadi tenang, dan bagian otak rasionalnya, yaitu prefrontal cortex, bisa bekerja lebih baik untuk berpikir jujur.
Dan jangan lupa, Ayah Bunda, arahkan juga pada nilai spiritual. Katakan dengan lembut, “Kalau adek bohong, mungkin bunda nggak tahu, tapi Allah tahu loh apa yang adek pikirkan, apa yang adek rasakan, dan apa yang adek katakan.”
Sebagaimana firman Allah :
وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran: 154)
Ayat ini mengajarkan anak untuk memiliki kesadaran batin (muraqabah) — bahwa kejujuran bukan karena takut orang tua, tapi karena dia merasa dilihat dan dicintai oleh Allah.
Jadi, yang perlu kita khawatirkan bukan cuma kebohongan itu sendiri, tapi kalau anak merasa tidak bisa lagi jujur pada kita. Saat itu terjadi, kita bukan cuma kehilangan kejujuran anak, tapi juga kehilangan kepercayaannya.
Kalau hubungan hati itu kembali kita bangun, pelan-pelan anak akan belajar bahwa kejujuran itu bukan ancaman, tapi jalan untuk dicintai.
———————————
sumber :
(1) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4636928/

