Home

Tanya Jawab

Apa bedanya menegur remaja yang berbohong dengan anak kecil yang bohong?

Nah, ini pertanyaan penting banget, Ayah Bunda. Karena cara kita menegur anak kecil dan remaja itu nggak bisa disamakan. Kalau salah pendekatan, hasilnya bisa berlawanan — bukan malah membuat mereka jujur, tapi justru makin tertutup. Coba kita mulai dari anak kecil dulu, ya.Anak usia dini itu pikirannya masih sangat konkret. Ia belum benar-benar bisa memahami konsep moral yang abstrak seperti “dosa” atau “integritas”. Jadi kalau ia berbohong, misalnya bilang “nggak makan cokelat” padahal ada bekas di mulutnya, itu sering kali bukan niat jahat — tapi hasil imajinasi, rasa takut dimarahi, atau sekadar refleks melindungi diri. Pada fase ini, menegurnya cukup dengan nada lembut dan memberi pemahaman sederhana. Misalnya,“Bunda tahu kamu bilang nggak makan cokelat, padahal makan ya? Yuk, jujur ya, Nak. Karena kalau kita jujur, hati jadi ringan, dan Allah suka.”Lalu tambahkan kesadaran spiritual, “Kalau bunda nggak tahu, Allah tahu loh Nak. Allah tahu apa yang kamu pikirkan dan rasakan.”Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Qaaf ayat 16: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Kata-kata seperti ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi menumbuhkan muraqabah — rasa bahwa Allah selalu hadir dengan cinta. Sedangkan untuk remaja, pendekatannya jauh lebih halus dan berbasis dialog. Karena di masa ini, mereka sedang belajar berpikir mandiri dan sangat sensitif terhadap nada menggurui. Kalau orang tua langsung marah atau menuduh, maka otak remaja — khususnya amygdala dan sistem limbiknya — langsung bereaksi defensif. Itulah sebabnya, menegur remaja dengan nada tinggi justru membuat mereka menutup diri atau berdebat balik. Remaja perlu diajak berpikir, bukan hanya ditegur. Misalnya dengan gaya percakapan seperti ini:“Ayah pengen ngobrol sebentar, ya. Ayah tahu kamu nggak bilang yang sebenarnya. Tapi ayah nggak mau marah. Ayah cuma pengen kamu jujur, karena ayah pengen bisa percaya penuh sama kamu.” Dengan begitu, kita memindahkan fokus dari “kesalahan” ke “kepercayaan”. Ini penting banget. Karena kejujuran pada remaja tumbuh bukan dari rasa takut, tapi dari rasa dipercaya. Kalau anak kecil kita ajari jujur dengan kasih dan pengulangan, maka remaja kita ajak jujur lewat tanggung jawab dan kedewasaan.Anak kecil butuh pelukan setelah salah, sementara remaja butuh kepercayaan setelah jujur. Dan satu hal yang sering dilupakan: remaja itu lebih mudah berubah lewat hubungan hati daripada lewat nasihat panjang. Jadi, bangun dulu jembatan hati sebelum menyampaikan teguran. Sebab kalau hatinya sudah nyambung, satu kalimat lembut dari kita bisa lebih mengena daripada seribu nasihat keras. Intinya, Ayah Bunda, menegur anak kecil butuh kelembutan agar ia tak takut berkata jujur, sementara menegur remaja butuh penghormatan agar ia merasa layak dipercaya. Kejujuran bukan sekadar dilatih dengan aturan, tapi ditumbuhkan lewat hubungan yang hangat.

Read More

Danang HA

Tanya Jawab

Anak saya berbohong tentang pergi ke mana atau dengan siapa — bagaimana menyikapinya?

Hmm… ini jenis kebohongan yang sering bikin orang tua paling khawatir ya, Ayah Bunda. Apalagi kalau anak sudah mulai remaja — bilangnya “ke rumah teman buat belajar kelompok”, padahal ternyata nongkrong di luar, atau pergi dengan seseorang yang tidak diceritakan. Pertama-tama, tarik napas dulu. Jangan buru-buru menyimpulkan anak “nakal” atau “gagal dididik”. Kita perlu paham dulu, di fase ini anak sedang berjuang mencari identitas dan kemandirian. Dalam bahasa psikologi perkembangan, ini disebut fase individuasi — masa ketika anak mulai merasa, “Aku ingin dipercaya. Aku ingin mengatur hidupku sendiri.” Jadi ketika anak berbohong soal pergi ke mana atau dengan siapa, sering kali itu bukan semata-mata ingin menipu, tapi ingin mempertahankan ruang pribadinya yang ia rasa belum dipercaya. Saya pernah baca satu penelitian menarik dari University of Virginia oleh Dr. Nancy Darling. Ia meneliti lebih dari 1.000 remaja dan menemukan bahwa 91% remaja mengaku pernah berbohong kepada orang tuanya, terutama soal aktivitas harian, pertemanan, atau ke mana mereka pergi. Alasannya bukan karena ingin berbuat jahat, tapi karena mereka takut kehilangan kepercayaan, takut dimarahi, atau merasa orang tua terlalu mengontrol. Nah, di sinilah kita perlu membedakan antara “berbohong karena niat buruk” dan “berbohong karena ingin melindungi kebebasan.” Kalau yang kedua, berarti sinyal bahwa anak sedang butuh ruang dan rasa dipercaya. Langkah pertama, pahami dulu situasinya dengan tenang. Jangan mulai dengan kalimat tuduhan seperti, “Kamu bohong lagi, ya?!” Coba ubah jadi pendekatan dialog, “Bunda dengar kamu tadi nggak ke tempat yang kamu bilang. Bunda nggak mau marah, bunda cuma ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?”Nada seperti ini menenangkan sistem saraf anak, membuatnya lebih mudah terbuka. Langkah kedua, setelah anak mengaku, jangan buru-buru ceramahi. Dengarkan dulu sampai selesai, bahkan kalau alasannya terdengar “aneh”. Kadang, yang mereka butuhkan bukan nasihat, tapi rasa dimengerti. Setelah itu baru arahkan dengan lembut, “Bunda ngerti kamu pengen dipercaya, tapi kejujuran itu justru cara terbaik buat bunda percaya penuh.” Dan di sini, penting sekali menanamkan nilai spiritual yang dalam. Ajak anak merenung dengan kalimat lembut,“Nak, mungkin bunda nggak tahu kamu pergi ke mana, tapi Allah tahu. Bahkan sebelum kamu melangkah, Allah sudah tahu ke mana kakimu akan pergi. Allah tahu isi hati, niat, dan langkah kita.”Firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 4 menegaskan: “Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Kata-kata ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangunkan kesadaran spiritual — bahwa jujur bukan hanya soal aturan, tapi soal hubungan dengan Allah yang selalu melihat dengan kasih. Dan terakhir, Ayah Bunda, yang paling penting bukan membuat anak takut berbohong, tapi membuatnya malu karena cinta. Malu karena ia tahu, orang tuanya percaya padanya, dan Allah mencintainya. Jadi, kalau anak berbohong tentang ke mana ia pergi, jangan buru-buru mencabut kepercayaannya. Bangun lagi kepercayaannya lewat kedekatan. Karena kejujuran tidak tumbuh di tanah ketakutan, tapi di tanah kepercayaan dan kasih sayang.

Read More

Danang HA

Tanya Jawab

Gimana caranya biar anak mau ngaku kalau udah bohong?

Hmm… ini pertanyaan yang sering banget muncul ya, Ayah Bunda. Karena sering kali, bukan cuma kebohongan yang bikin kita sedih — tapi rasa kecewa karena anak nggak mau jujur meskipun sudah ketahuan. Sekarang coba kita bayangkan dari sisi anak dulu, ya. Saat dia tahu perbuatannya salah dan melihat wajah orang tuanya tegang, nada suara meninggi, jantungnya langsung berdetak cepat. Di otak anak, bagian yang bernama amygdala aktif — itu pusat rasa takut. Ketika amygdala aktif, otak rasionalnya (prefrontal cortex) justru menurun fungsinya. Artinya, anak tidak sedang berpikir jernih, dia sedang berusaha “selamat” dari situasi berbahaya. Salah satu cara yang paling cepat bagi anak untuk “menyelamatkan diri” adalah… berbohong. Jadi langkah pertama: bantu anak merasa aman dulu. Jangan buru-buru interogasi. Tahan diri dari pertanyaan seperti, “Kamu pasti bohong, ya?” Gantilah dengan kalimat yang lebih menenangkan, misalnya,“Bunda tahu kamu mungkin takut cerita sebenarnya. Tapi bunda di sini nggak akan marah. Bunda cuma ingin tahu yang sebenarnya biar kita bisa sama-sama memperbaiki.” Begitu anak merasa aman, sistem sarafnya turun dari mode pertahanan (fight or flight), dan ia mulai terbuka. Langkah kedua, validasi dulu perasaannya. Misalnya, “Kamu takut ya kalau bilang sebenarnya nanti dimarahi?” atau “Kamu malu ya udah ngelakuin itu?” Ketika anak merasa dimengerti, ia akan lebih mudah jujur. Dalam psikologi, ini disebut emotional validation — dan penelitian menunjukkan, anak-anak yang sering divalidasi emosinya memiliki kemampuan regulasi diri dan kejujuran yang lebih tinggi di usia remaja. Langkah ketiga, setelah anak mulai terbuka, baru arahkan pada nilai kejujuran. Bukan dengan ancaman, tapi dengan kesadaran. Katakan begini misalnya,“Kadang bunda juga dulu waktu kecil pernah takut jujur. Tapi bunda belajar, kalau kita jujur, hati jadi ringan, dan Allah senang.” Nah, di titik ini, penting sekali menanamkan nilai spiritual dengan lembut.Katakan, “Nak, mungkin bunda nggak tahu kamu bohong atau tidak, tapi Allah selalu tahu. Allah tahu isi hati, pikiran, dan ucapan kita.”Firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 3 menegaskan: “Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan.” Kalimat ini tidak untuk menakut-nakuti, tapi menumbuhkan kesadaran bahwa kejujuran bukan karena takut hukuman, tapi karena cinta dan rasa diawasi dengan kasih oleh Allah Ar Rahman. Dan yang perlu kita pahami, Ayah Bunda, anak itu belajar jujur bukan dari kata-kata kita, tapi dari rasa aman yang kita berikan. Kalau tiap kali dia jujur malah disambut marah, maka otaknya belajar bahwa “jujur itu berbahaya.” Tapi kalau setiap kejujuran disambut pelukan, pemahaman, dan bimbingan, maka otaknya membentuk koneksi baru — bahwa “jujur itu aman.” Pelan-pelan, jangan buru-buru. Kejujuran itu tumbuh seperti pohon. Ia butuh tanah yang hangat, bukan tanah yang penuh ancaman.Dan kalau Ayah Bunda terus menanam rasa aman di hati anak, suatu hari nanti, saat dia tergoda untuk berbohong, ada suara kecil di dalam hatinya yang berkata, “Aku pengen jujur, karena aku pengen Allah senang dan bunda percaya padaku.”

Read More

Danang HA

Tanya Jawab

“Saya sudah sering menasihati anak saya supaya jujur, tapi kok dia masih aja bohong ya?”

Hmm… begini, Ayah Bunda.Kadang kita sudah merasa, “Saya sudah sering menasihati anak saya supaya jujur, tapi kok dia masih aja bohong ya?” Tenang dulu. Ini bukan berarti anak kita nakal atau rusak akhlaknya. Bisa jadi, cara otak anak memproses rasa takut, malu, atau ingin diterima itu yang sedang “berbicara”. Saya pernah baca satu penelitian menarik dari University of Toronto yang dilakukan oleh Prof. Kang Lee. Dalam risetnya disebutkan bahwa anak mulai bisa berbohong sejak usia 2-3 tahun(1) — dan ini bukan karena mereka jahat, tapi karena kemampuan berpikir mereka (yang disebut theory of mind) mulai berkembang. Artinya, anak mulai paham bahwa orang lain tidak selalu tahu apa yang dia tahu. Nah, kemampuan ini yang bisa membuat anak mencoba memanipulasi kebenaran. Coba kita renungkan, Ayah Bunda. Pernah nggak, anak bohong karena takut dimarahi? Atau karena dia ingin membuat kita senang, biar tidak kecewa? Itu artinya bukan semata-mata soal moral, tapi soal rasa aman. Anak akan jujur kalau ia merasa aman untuk berkata jujur. Jadi, bukan sekadar “nasihat tentang jujur” yang dibutuhkan, tapi juga suasana hati yang membuat anak berani jujur. Ayah Bunda bisa coba pahami dulu ya, bahwa ketika anak berbohong, dia sedang melindungi dirinya. Entah dari rasa takut, rasa bersalah, atau rasa malu. Tugas kita adalah membantunya menata perasaan itu, bukan langsung menghakimi. Tipsnya begini: kalau anak berbohong, jangan langsung bertanya dengan nada menghakimi seperti, “Kamu bohong, ya?” Coba ganti dengan pendekatan empatik, “Bunda tahu mungkin kamu takut cerita sebenarnya. Tapi bunda pengen bantu kamu biar tenang. Yuk, ceritain yang sebenarnya.” Nada seperti ini membuat otak anak lebih terbuka — amygdala (pusat emosi takut) jadi tenang, dan bagian otak rasionalnya, yaitu prefrontal cortex, bisa bekerja lebih baik untuk berpikir jujur. Dan jangan lupa, Ayah Bunda, arahkan juga pada nilai spiritual. Katakan dengan lembut, “Kalau adek bohong, mungkin bunda nggak tahu, tapi Allah tahu loh apa yang adek pikirkan, apa yang adek rasakan, dan apa yang adek katakan.”Sebagaimana firman Allah : وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ “Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali Imran: 154) Ayat ini mengajarkan anak untuk memiliki kesadaran batin (muraqabah) — bahwa kejujuran bukan karena takut orang tua, tapi karena dia merasa dilihat dan dicintai oleh Allah. Jadi, yang perlu kita khawatirkan bukan cuma kebohongan itu sendiri, tapi kalau anak merasa tidak bisa lagi jujur pada kita. Saat itu terjadi, kita bukan cuma kehilangan kejujuran anak, tapi juga kehilangan kepercayaannya. Kalau hubungan hati itu kembali kita bangun, pelan-pelan anak akan belajar bahwa kejujuran itu bukan ancaman, tapi jalan untuk dicintai. ———————————sumber :(1) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4636928/

Read More

Danang HA

Tanya Jawab

Apakah berbohong pada anak usia dini itu wajar?

Assalamu’alaikum Ayah Bunda,Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kelembutan kepada keluarga kita, menjadikan anak-anak kita tumbuh dalam kejujuran dan ketulusan hati. Hmm… pertanyaannya bagus sekali ya, “Apakah berbohong pada anak usia dini itu wajar?” Jawabannya, iya, wajar — tapi tidak boleh dibiarkan. Begini Ayah Bunda, pada usia sekitar 3 sampai 6 tahun, anak-anak sedang belajar membedakan antara dunia nyata dan dunia imajinasi. Mereka bisa dengan polos berkata, “Aku tadi lawan monster di halaman!” atau “Aku udah mandi kok!” padahal belum. Sering kali, ini bukan kebohongan yang disengaja, melainkan cara mereka mengekspresikan keinginan atau melindungi diri dari rasa takut. Dalam sebuah penelitian dari University of Toronto (Talwar & Lee, 2008), disebutkan bahwa anak yang mulai bisa berbohong kecil justru sedang menunjukkan perkembangan kemampuan sosialnya — artinya, dia mulai memahami bahwa orang lain punya pikiran dan perasaan yang berbeda dari dirinya. Tapi kemampuan ini bisa berkembang ke dua arah: jadi kecerdasan sosial yang baik, atau jadi alat manipulasi, tergantung bagaimana kita mengarahkannya. Nah, di sinilah peran Ayah Bunda penting banget. Jangan langsung marah atau menuduh anak ketika ia berbohong, karena kalau anak merasa takut, ia justru akan makin pandai menyembunyikan kebenaran. Tapi juga jangan dibiarkan, karena kalau tidak diarahkan, ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa “asal tidak ketahuan, tidak apa-apa.” Coba ajak anak memahami dari sisi spiritual. Misalnya saat ia berbohong, Ayah atau Bunda bisa berkata dengan lembut,“Nak, mungkin Bunda nggak tahu kalau kamu bohong… tapi Allah tahu, loh. Allah tahu apa yang Adek pikirkan, Allah tahu apa yang Adek rasakan.” Kita bisa tambahkan firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah ayat 7: “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya…” Dengan begitu, anak belajar bahwa kejujuran bukan hanya tentang takut dimarahi, tapi tentang kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui. Ini menanamkan nilai ihsan sejak dini — yaitu merasa diawasi Allah walau tak ada yang melihat. Kalau Ayah Bunda perhatikan, kebohongan kecil itu seperti bola salju. Awalnya kecil, tapi kalau didiamkan bisa membesar. Sekali anak berbohong, maka ia sering kali harus menambah kebohongan baru untuk menutup yang lama. Lama-lama ia bisa terjebak dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Maka tugas kita bukan hanya menegur, tapi menolongnya keluar dari lingkaran itu dengan kasih sayang. Caranya sederhana. Ketika anak berbohong karena takut, kita bisa bilang, “Bunda senang kamu mau cerita, meskipun awalnya belum jujur. Yuk, kita coba jujur bareng.” Dengan begitu, anak merasa aman untuk berkata jujur. Kalau ia suka berimajinasi, katakan, “Wah, ceritanya seru banget! Itu beneran atau cuma khayalan Adek?” Dengan kalimat ringan seperti itu, anak belajar membedakan antara fantasi dan kenyataan tanpa merasa disalahkan. Dan tentu, teladan dari Ayah Bunda jauh lebih kuat daripada seribu nasihat. Kalau kita bisa mengakui kesalahan sendiri — “Tadi Bunda lupa janji ya, maaf ya Nak” — anak akan melihat bahwa jujur itu tidak menakutkan. Justru kejujuran membuat hubungan semakin hangat dan penuh kepercayaan. Jadi, berbohong pada usia dini memang hal yang wajar karena anak masih belajar memahami realitas dan konsekuensi. Tapi kalau kita arahkan dengan bijak — lewat keteladanan, rasa aman, dan pengingat bahwa Allah Maha Melihat — maka dari hal kecil itu, kita sedang menumbuhkan akar kejujuran dalam hati anak. Semoga Allah menumbuhkan dalam diri anak-anak kita keberanian untuk berkata jujur, keikhlasan dalam hati mereka, dan ketenangan dalam setiap langkah mereka.

Read More

Danang HA

Tanya Jawab

Bagaimana Menangani Anak yang Suka Bohong Manipulatif?

Assalamu’alaikum Ayah Bunda,Semoga Allah senantiasa merahmati keluarga kita, menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya kejujuran, dan hati kita diberi hikmah dalam menghadapi setiap ujian pengasuhan. Hmm… begini Ayah Bunda, ketika anak mulai suka bohong dan bahkan tampak manipulatif, itu sebenarnya sinyal penting. Banyak anak berbohong karena takut dimarahi atau ingin menghindar dari tanggung jawab — tapi ketika kebohongan mulai dipakai untuk mengatur situasi dan memengaruhi orang lain, kita sedang berhadapan dengan hal yang lebih dalam. Pertama, pahami dulu bahwa kebohongan pada anak bukan selalu tanda nakal, tapi tanda ada “mekanisme bertahan”. Anak sudah paham bahwa orang lain punya pikiran sendiri, dan mereka mulai belajar “mengatur cerita” supaya hasilnya sesuai keinginannya. Dalam satu penelitian yang pernah saya baca, anak yang kemampuan berpikir sosialnya lebih maju justru lebih pandai berbohong. Jadi kemampuan kognitifnya berkembang — tapi arah penggunaannya belum dibimbing. Kedua, sering kali anak belajar berbohong dari lingkungannya. Ada riset lain yang menarik, mengatakan bahwa anak yang sering dibohongi orang tuanya agar patuh — misalnya “kalau kamu nakal nanti polisi tangkap” — cenderung lebih banyak berbohong dan sulit beradaptasi saat dewasa. Artinya, setiap kali kita menakut-nakuti atau memanipulasi, anak menangkap bahwa kebohongan bisa menjadi alat sosial yang sah. Ketiga, yang perlu kita khawatirkan bukan semata “anak bohong”, tapi ketika ia mengandalkan kebohongan sebagai strategi hidup. Kalau dibiarkan, anak akan tumbuh dengan pola pikir bahwa “kejujuran merugikan”. Hubungan dengan orang tua pun retak: anak tidak merasa aman untuk jujur, dan orang tua kehilangan kepercayaan untuk mempercayai.Ketiga, yang perlu kita khawatirkan bukan semata “anak bohong”, tapi ketika ia mengandalkan kebohongan sebagai strategi hidup. Kalau dibiarkan, anak akan tumbuh dengan pola pikir bahwa “kejujuran merugikan”. Hubungan dengan orang tua pun retak: anak tidak merasa aman untuk jujur, dan orang tua kehilangan kepercayaan untuk mempercayai. Oia, satu lagi yang paling penting…Ingatkan anak akan dampak dari berbohong yang pernah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’” (HR Bukhari dan Muslim) Kebohongan itu seperti benang kusut, Ayah Bunda. Sekali anak berbohong, maka akan muncul kebutuhan untuk menutup kebohongan pertama dengan kebohongan berikutnya. Lama-lama ia terperangkap dalam cerita yang ia ciptakan sendiri. Maka ketika kita mengingatkan anak tentang sabda Nabi ini, bukan sekadar menakut-nakuti dengan “dosa”, tapi menanamkan kesadaran bahwa kejujuran membawa ketenangan, sementara kebohongan hanya membuat hati gelisah. Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Pertama-tama, jangan langsung menuduh atau menghakimi. Coba dekati dengan empati, “Bunda pengen tahu, kenapa kamu pilih cerita begitu?” Anak biasanya akan lebih jujur ketika merasa aman, bukan ketika disudutkan. Kedua, tekankan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk jujur. Kalau anak berani mengaku salah, kita apresiasi dulu kejujurannya, baru bantu dia memperbaiki kesalahannya. Seperti pipa bocor, Ayah Bunda, kita tak bisa sekadar menambal — harus tahu dari mana airnya keluar. Begitu juga dengan kebohongan, kita harus tahu sumbernya: takut, malu, ingin diterima, atau sekadar ingin menang. Selanjutnya, yang paling penting adalah memberi teladan. Bila anak melihat kita berani jujur, bahkan saat salah, ia akan belajar bahwa kejujuran bukan kelemahan. Penelitian “parenting by lying” menunjukkan bahwa kejujuran orang tua punya efek langsung terhadap perilaku anak. Jadi, kalau suatu kali kita terpaksa menunda janji atau salah bicara, lebih baik akui saja, “Tadi Ayah salah ngomong, ya.” Itu kecil, tapi dampaknya besar. Dan terakhir, bantu anak menemukan cara lain untuk menghadapi masalah selain berbohong. Kalau dia takut dimarahi karena nilainya jelek, katakan, “Ayo kita lihat bareng, apa yang bisa diperbaiki.” Kalau dia ingin perhatian, berilah waktu mendengar, bukan hanya menegur. Anak yang merasa diterima, lebih jarang merasa perlu memanipulasi. Ayah Bunda, kejujuran tidak tumbuh dari ancaman, tapi dari rasa aman. Maka tugas kita bukan hanya mendidik anak agar “tidak bohong”, tapi agar mereka berani jujur meski sedang takut. Semoga Allah menumbuhkan di hati anak-anak kita cahaya kejujuran, dan di hati kita kesabaran untuk membimbing mereka dengan lembut. referensi :https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33544950

Read More

Danang HA

Kisah

Kisah Anak Laki-laki dan 3 Boneka Hantu

Ada luka dalam diri seorang anak… yang tidak terdengar oleh suara orang dewasa. Telepon itu datang pada pagi hari.Langit di luar cukup cerah, angin pelan memukul jendela rumahku. Aku sedang merapikan catatan ketika suara dari seberang sana menembus hening. “Ustadz… saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya minta tolong bantuan Ustadz untuk menangani anak saya.” Aku diam, mendengarkan. Itu suara seorang ayah. Aku mengenalnya cukup baik. Beberapa bulan sebelumnya, aku menjadi tour leader dalam perjalanan umrah. Mereka salah satu keluarga dalam rombongan. Aku ingat keluarganya. Ramah. Tertib. Tampak utuh. Tapi hari itu, nada di suaranya seperti bangunan yang retak. “Ustadz, anak ini. Dia sering marah, mengurung diri. Tidak mau sekolah. Tidak mau bicara. Seringnya main game sampai larut malam…” Aku tidak kaget.Karena aku juga sempat memperhatikan anak itu selama perjalanan umroh. Dia laki-laki. Enam belas tahun. Tinggi, kulit putih bersih, wajah rupawan.Tapi tatapannya seperti jendela yang ditutup dari dalam. Ia jarang bicara. Lebih banyak menunduk ke layar HP. Saat ditanya, jawabannya pendek. Hambar. Seperti hidup tidak punya rasa. Aku tidak bisa datang langsung. Jarak rumah mereka cukup jauh. Maka kami setujui untuk terapi lewat telepon. Aku menelepon anak itu di pagi hari. Sinyalnya pelan. Tapi lebih pelan lagi hatinya.Aku tidak langsung bertanya masalah. Aku tahu, luka tidak pernah mau dibuka oleh tangan asing. Maka aku mulai dari pinggiran. Aku bertanya hobinya. Apa yang dia suka. Makanan favoritnya. Game apa yang dia mainkan. Lalu, ia bilang sesuatu yang membuatku diam. “Aku juga punya koleksi boneka monster.” “Boneka?” tanyaku. Cukup kaget. Tidak terbayang olehku ada anak remaja usia SMA, tapi punya koleksi boneka. Aku bertanya nama-nama karakter boneka itu. Dia menyebutkan dan aku segera mencatatnya. Malam itu, aku cari nama-nama boneka yang ia sebutkan.Dan aku membeku. Boneka-boneka itu adalah karakter hantu. Dan hantunya perempuan. Dingin. Menyendiri. Gelap. Bahkan salah satu karakternya punya kekuatan magis bisa mengabulkan permintaan, sesuai yang disebutkan di dalam film kartun karakter itu..Dan saat itu, aku tahu—mereka bukan sekadar mainan. Mereka adalah simbol. Tempat dia bicara tanpa dihakimi. Tempat dia merasa hidup. Tempat dia merasa diperhatikan. Di sesi berikutnya, aku pancing ia bicara.Dan tiba-tiba… semua tumpah. “Papah Mamah cuma peduli nilai. PR. Les. Tapi waktu aku pentas di sekolah… nggak ada satupun yang datang.” “Mamah kalau pulang kerja udah capek. Nonton TV. Terus aku mau cerita ke siapa?” “Aku cuma anak yang disuruh ini-itu. Tapi nggak pernah ditanya, aku kuat nggak?” “Papah bilang cinta. Tapi yang diurus cuma jadwalku, bukan jiwaku.” “Papah nyuruh sholat nyuruh ngaji, namun setelah mengaji isinya adalah nasehat lagi… nasehat lagi.. Kapan aku punya hak untuk bercerita? Kalimat-kalimat itu seperti anak panah.Lepas satu per satu. Dan aku tidak menangkisnya. Aku hanya diam… dan menampung semuanya. Aku bertanya, “Sejak kapan kamu mengalami hal seperti ini?” “Sejak kecil ustadz, sejak aku sekolah SD.” Jawabnya Dia berbicara dengan nada suaranya bergetar, aku tahu bergetarnya suara itu sebab jiwanya yang terguncang. Dan guncangannya terjadi sejak dia kecil. “Aku cerita pun nggak tahu ke siapa. Kalau ngomong, dianggap lebay. Jadi aku simpen semua. Lama-lama aku capek. Aku ga kuat lagi ustadz” Saat dia berkata begitu, aku tak sanggup bicara.Aku merasakan ada sesuatu yang pecah di dadaku.Suaranya bukan marah. Tapi sunyi.Seperti anak kecil yang sudah terlalu lama mengetuk pintu, tapi tak pernah dibukakan.Aku merenung.Sebagai seorang konselor dan psikoterapis Islami, aku pernah melihat banyak kasus anak. Tapi kali ini… kasusnya menusuk lebih dalam.Karena dari 3 Pilar Jembatan Hati — sebuah konsep yang aku susun untuk membangun kedekatan antara orang tua dan anak — semuanya rapuh.Yang ada hanya arahan. Bimbingan. Perintah. Jadwal. Target.Yang ada hanya kekosongan hati… yang kemudian diisi dengan game dan boneka. Setelah telepon itu, aku termenung lama.Dan aku sadar — bukan anak ini yang rusak. Tapi jembatan hati antara dia dan orang tuanya… yang sudah lama runtuh. Esoknya Aku menelepon kembali sang ayah dan ibunya. Aku ceritakan semuanya.Mereka diam. Lama. Karena berbicara via telp, aku tidak bisa melihat wajah mereka. Walaupun begitu aku bisa membayangkan pahitnya perasaan mereka seperti apa. “Kami pikir… kami sudah jadi orang tua yang baik.” “Iya,” kataku pelan, “tapi kadang kita memberi apa yang kita kira penting…dan lupa memberi apa yang anak kita paling butuh: diri kita.” Aku beri mereka tugas.Aku sampaikan 3 aktivitas dari Skill Jembatan Hati.Bukan ceramah. Bukan larangan. Tapi hal-hal yang basic dan sederhana seperti pelukan. Obrolan. Kebersamaan. Dengan metode yang aku susun dengan basic neurosains (ilmu tentang otak) dan juga teladan-teladan dari ajaran Islam.Agama? Iya tentu saja. Sebab Allah-lah yang menciptakan hati manusia, dan Allah juga lah yang telah menganugerahkan sebagian kecil ilmu Nya untuk menyembuhkan luka di hati manusia. Kita tidak menyembuhkan luka dengan kata-kata.Kita menyembuhkan luka dengan kehadiran. Beberapa bulan kemudian… aku mendapat pesan.Anaknya sudah keluar kamar. Sudah mulai sekolah.Sudah mulai cerita.Sudah mulai… hidup. Aku membaca pesan itu lalu memejamkan mata.Dan mataku berkaca-kaca. Tapi kali ini, bukan karena luka.Tapi karena harapan. Ayah Bunda… Kalau ananda hari ini terlihat sulit, menjauh, malas, atau keras kepala…Cobalah tanya sekali saja: “Apa hatimu masih terhubung dengan hatinya?” Karena anak-anak bukan menjauh karena nakal.Mereka menjauh… karena jembatan itu sudah lama runtuh, dan tak ada yang menyusul mereka. 📌 Tapi jembatan bisa dibangun kembali.Bukan dengan marah. Tapi dengan mengenali luka mereka lebih dulu. 🎓 Di Skill Jembatan Hati, aku bagikan langkah-langkah kecil tapi dalam: Obrolan tanpa nanya PR Momen rutin untuk memperbaiki kepercayaan dan kehangatan Aktivitas khusus untuk mengaktifkan hormon oksitosin & dopamin sehat Bukan teori. Tapi praktik yang bisa menjaga dan menyelamatkan buat hati Anda. 📥 Klik di sini untuk mulai membangun kembali jembatan hati itu: 👉 Pelajari Skill Jembatan Hati Sekarang (klik disini) Karena anak tidak selalu bicara dengan kata-kata.Kadang, mereka bicara lewat diam yang panjang.Dan tugas kita… adalah hadir, dan mendengar yang tak terdengar. Semoga kisah ini… mengetuk hati Ayah Bunda, sebelum suara anak itu hilang selamanya di balik pintu kamar yang terkunci.

Read More

Danang HA