Hmm… ini pertanyaan yang sering banget muncul ya, Ayah Bunda. Karena sering kali, bukan cuma kebohongan yang bikin kita sedih — tapi rasa kecewa karena anak nggak mau jujur meskipun sudah ketahuan.
Sekarang coba kita bayangkan dari sisi anak dulu, ya. Saat dia tahu perbuatannya salah dan melihat wajah orang tuanya tegang, nada suara meninggi, jantungnya langsung berdetak cepat. Di otak anak, bagian yang bernama amygdala aktif — itu pusat rasa takut. Ketika amygdala aktif, otak rasionalnya (prefrontal cortex) justru menurun fungsinya. Artinya, anak tidak sedang berpikir jernih, dia sedang berusaha “selamat” dari situasi berbahaya. Salah satu cara yang paling cepat bagi anak untuk “menyelamatkan diri” adalah… berbohong.
Jadi langkah pertama: bantu anak merasa aman dulu. Jangan buru-buru interogasi. Tahan diri dari pertanyaan seperti, “Kamu pasti bohong, ya?” Gantilah dengan kalimat yang lebih menenangkan, misalnya,
“Bunda tahu kamu mungkin takut cerita sebenarnya. Tapi bunda di sini nggak akan marah. Bunda cuma ingin tahu yang sebenarnya biar kita bisa sama-sama memperbaiki.”
Begitu anak merasa aman, sistem sarafnya turun dari mode pertahanan (fight or flight), dan ia mulai terbuka.
Langkah kedua, validasi dulu perasaannya. Misalnya, “Kamu takut ya kalau bilang sebenarnya nanti dimarahi?” atau “Kamu malu ya udah ngelakuin itu?” Ketika anak merasa dimengerti, ia akan lebih mudah jujur. Dalam psikologi, ini disebut emotional validation — dan penelitian menunjukkan, anak-anak yang sering divalidasi emosinya memiliki kemampuan regulasi diri dan kejujuran yang lebih tinggi di usia remaja.
Langkah ketiga, setelah anak mulai terbuka, baru arahkan pada nilai kejujuran. Bukan dengan ancaman, tapi dengan kesadaran. Katakan begini misalnya,
“Kadang bunda juga dulu waktu kecil pernah takut jujur. Tapi bunda belajar, kalau kita jujur, hati jadi ringan, dan Allah senang.”
Nah, di titik ini, penting sekali menanamkan nilai spiritual dengan lembut.
Katakan, “Nak, mungkin bunda nggak tahu kamu bohong atau tidak, tapi Allah selalu tahu. Allah tahu isi hati, pikiran, dan ucapan kita.”
Firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 3 menegaskan:
“Dan Dialah Allah yang di langit dan di bumi mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan.”
Kalimat ini tidak untuk menakut-nakuti, tapi menumbuhkan kesadaran bahwa kejujuran bukan karena takut hukuman, tapi karena cinta dan rasa diawasi dengan kasih oleh Allah Ar Rahman.
Dan yang perlu kita pahami, Ayah Bunda, anak itu belajar jujur bukan dari kata-kata kita, tapi dari rasa aman yang kita berikan. Kalau tiap kali dia jujur malah disambut marah, maka otaknya belajar bahwa “jujur itu berbahaya.” Tapi kalau setiap kejujuran disambut pelukan, pemahaman, dan bimbingan, maka otaknya membentuk koneksi baru — bahwa “jujur itu aman.”
Pelan-pelan, jangan buru-buru. Kejujuran itu tumbuh seperti pohon. Ia butuh tanah yang hangat, bukan tanah yang penuh ancaman.
Dan kalau Ayah Bunda terus menanam rasa aman di hati anak, suatu hari nanti, saat dia tergoda untuk berbohong, ada suara kecil di dalam hatinya yang berkata, “Aku pengen jujur, karena aku pengen Allah senang dan bunda percaya padaku.”


