Assalamu’alaikum Ayah Bunda,
Semoga Allah senantiasa merahmati keluarga kita, menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya kejujuran, dan hati kita diberi hikmah dalam menghadapi setiap ujian pengasuhan.
Hmm… begini Ayah Bunda, ketika anak mulai suka bohong dan bahkan tampak manipulatif, itu sebenarnya sinyal penting. Banyak anak berbohong karena takut dimarahi atau ingin menghindar dari tanggung jawab — tapi ketika kebohongan mulai dipakai untuk mengatur situasi dan memengaruhi orang lain, kita sedang berhadapan dengan hal yang lebih dalam.
Pertama, pahami dulu bahwa kebohongan pada anak bukan selalu tanda nakal, tapi tanda ada “mekanisme bertahan”. Anak sudah paham bahwa orang lain punya pikiran sendiri, dan mereka mulai belajar “mengatur cerita” supaya hasilnya sesuai keinginannya. Dalam satu penelitian yang pernah saya baca, anak yang kemampuan berpikir sosialnya lebih maju justru lebih pandai berbohong. Jadi kemampuan kognitifnya berkembang — tapi arah penggunaannya belum dibimbing.
Kedua, sering kali anak belajar berbohong dari lingkungannya. Ada riset lain yang menarik, mengatakan bahwa anak yang sering dibohongi orang tuanya agar patuh — misalnya “kalau kamu nakal nanti polisi tangkap” — cenderung lebih banyak berbohong dan sulit beradaptasi saat dewasa. Artinya, setiap kali kita menakut-nakuti atau memanipulasi, anak menangkap bahwa kebohongan bisa menjadi alat sosial yang sah.
Ketiga, yang perlu kita khawatirkan bukan semata “anak bohong”, tapi ketika ia mengandalkan kebohongan sebagai strategi hidup. Kalau dibiarkan, anak akan tumbuh dengan pola pikir bahwa “kejujuran merugikan”. Hubungan dengan orang tua pun retak: anak tidak merasa aman untuk jujur, dan orang tua kehilangan kepercayaan untuk mempercayai.
Ketiga, yang perlu kita khawatirkan bukan semata “anak bohong”, tapi ketika ia mengandalkan kebohongan sebagai strategi hidup. Kalau dibiarkan, anak akan tumbuh dengan pola pikir bahwa “kejujuran merugikan”. Hubungan dengan orang tua pun retak: anak tidak merasa aman untuk jujur, dan orang tua kehilangan kepercayaan untuk mempercayai.
Oia, satu lagi yang paling penting…
Ingatkan anak akan dampak dari berbohong yang pernah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’” (HR Bukhari dan Muslim)
Kebohongan itu seperti benang kusut, Ayah Bunda. Sekali anak berbohong, maka akan muncul kebutuhan untuk menutup kebohongan pertama dengan kebohongan berikutnya. Lama-lama ia terperangkap dalam cerita yang ia ciptakan sendiri. Maka ketika kita mengingatkan anak tentang sabda Nabi ini, bukan sekadar menakut-nakuti dengan “dosa”, tapi menanamkan kesadaran bahwa kejujuran membawa ketenangan, sementara kebohongan hanya membuat hati gelisah.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Pertama-tama, jangan langsung menuduh atau menghakimi. Coba dekati dengan empati, “Bunda pengen tahu, kenapa kamu pilih cerita begitu?” Anak biasanya akan lebih jujur ketika merasa aman, bukan ketika disudutkan. Kedua, tekankan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk jujur. Kalau anak berani mengaku salah, kita apresiasi dulu kejujurannya, baru bantu dia memperbaiki kesalahannya. Seperti pipa bocor, Ayah Bunda, kita tak bisa sekadar menambal — harus tahu dari mana airnya keluar. Begitu juga dengan kebohongan, kita harus tahu sumbernya: takut, malu, ingin diterima, atau sekadar ingin menang.
Selanjutnya, yang paling penting adalah memberi teladan. Bila anak melihat kita berani jujur, bahkan saat salah, ia akan belajar bahwa kejujuran bukan kelemahan. Penelitian “parenting by lying” menunjukkan bahwa kejujuran orang tua punya efek langsung terhadap perilaku anak. Jadi, kalau suatu kali kita terpaksa menunda janji atau salah bicara, lebih baik akui saja, “Tadi Ayah salah ngomong, ya.” Itu kecil, tapi dampaknya besar.
Dan terakhir, bantu anak menemukan cara lain untuk menghadapi masalah selain berbohong. Kalau dia takut dimarahi karena nilainya jelek, katakan, “Ayo kita lihat bareng, apa yang bisa diperbaiki.” Kalau dia ingin perhatian, berilah waktu mendengar, bukan hanya menegur. Anak yang merasa diterima, lebih jarang merasa perlu memanipulasi.
Ayah Bunda, kejujuran tidak tumbuh dari ancaman, tapi dari rasa aman. Maka tugas kita bukan hanya mendidik anak agar “tidak bohong”, tapi agar mereka berani jujur meski sedang takut. Semoga Allah menumbuhkan di hati anak-anak kita cahaya kejujuran, dan di hati kita kesabaran untuk membimbing mereka dengan lembut.
referensi :
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33544950

