Assalamu’alaikum Ayah Bunda,
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kelembutan kepada keluarga kita, menjadikan anak-anak kita tumbuh dalam kejujuran dan ketulusan hati.
Hmm… pertanyaannya bagus sekali ya, “Apakah berbohong pada anak usia dini itu wajar?”
Jawabannya, iya, wajar — tapi tidak boleh dibiarkan.
Begini Ayah Bunda, pada usia sekitar 3 sampai 6 tahun, anak-anak sedang belajar membedakan antara dunia nyata dan dunia imajinasi. Mereka bisa dengan polos berkata, “Aku tadi lawan monster di halaman!” atau “Aku udah mandi kok!” padahal belum. Sering kali, ini bukan kebohongan yang disengaja, melainkan cara mereka mengekspresikan keinginan atau melindungi diri dari rasa takut.
Dalam sebuah penelitian dari University of Toronto (Talwar & Lee, 2008), disebutkan bahwa anak yang mulai bisa berbohong kecil justru sedang menunjukkan perkembangan kemampuan sosialnya — artinya, dia mulai memahami bahwa orang lain punya pikiran dan perasaan yang berbeda dari dirinya. Tapi kemampuan ini bisa berkembang ke dua arah: jadi kecerdasan sosial yang baik, atau jadi alat manipulasi, tergantung bagaimana kita mengarahkannya.
Nah, di sinilah peran Ayah Bunda penting banget. Jangan langsung marah atau menuduh anak ketika ia berbohong, karena kalau anak merasa takut, ia justru akan makin pandai menyembunyikan kebenaran. Tapi juga jangan dibiarkan, karena kalau tidak diarahkan, ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa “asal tidak ketahuan, tidak apa-apa.”
Coba ajak anak memahami dari sisi spiritual. Misalnya saat ia berbohong, Ayah atau Bunda bisa berkata dengan lembut,
“Nak, mungkin Bunda nggak tahu kalau kamu bohong… tapi Allah tahu, loh. Allah tahu apa yang Adek pikirkan, Allah tahu apa yang Adek rasakan.”
Kita bisa tambahkan firman Allah dalam Surah Al-Mujadilah ayat 7:
“Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya…”
Dengan begitu, anak belajar bahwa kejujuran bukan hanya tentang takut dimarahi, tapi tentang kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui. Ini menanamkan nilai ihsan sejak dini — yaitu merasa diawasi Allah walau tak ada yang melihat.
Kalau Ayah Bunda perhatikan, kebohongan kecil itu seperti bola salju. Awalnya kecil, tapi kalau didiamkan bisa membesar. Sekali anak berbohong, maka ia sering kali harus menambah kebohongan baru untuk menutup yang lama. Lama-lama ia bisa terjebak dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri. Maka tugas kita bukan hanya menegur, tapi menolongnya keluar dari lingkaran itu dengan kasih sayang.
Caranya sederhana. Ketika anak berbohong karena takut, kita bisa bilang, “Bunda senang kamu mau cerita, meskipun awalnya belum jujur. Yuk, kita coba jujur bareng.” Dengan begitu, anak merasa aman untuk berkata jujur. Kalau ia suka berimajinasi, katakan, “Wah, ceritanya seru banget! Itu beneran atau cuma khayalan Adek?” Dengan kalimat ringan seperti itu, anak belajar membedakan antara fantasi dan kenyataan tanpa merasa disalahkan.
Dan tentu, teladan dari Ayah Bunda jauh lebih kuat daripada seribu nasihat. Kalau kita bisa mengakui kesalahan sendiri — “Tadi Bunda lupa janji ya, maaf ya Nak” — anak akan melihat bahwa jujur itu tidak menakutkan. Justru kejujuran membuat hubungan semakin hangat dan penuh kepercayaan.
Jadi, berbohong pada usia dini memang hal yang wajar karena anak masih belajar memahami realitas dan konsekuensi. Tapi kalau kita arahkan dengan bijak — lewat keteladanan, rasa aman, dan pengingat bahwa Allah Maha Melihat — maka dari hal kecil itu, kita sedang menumbuhkan akar kejujuran dalam hati anak.
Semoga Allah menumbuhkan dalam diri anak-anak kita keberanian untuk berkata jujur, keikhlasan dalam hati mereka, dan ketenangan dalam setiap langkah mereka.

