Anak saya berbohong tentang pergi ke mana atau dengan siapa — bagaimana menyikapinya?

Hmm… ini jenis kebohongan yang sering bikin orang tua paling khawatir ya, Ayah Bunda. Apalagi kalau anak sudah mulai remaja — bilangnya “ke rumah teman buat belajar kelompok”, padahal ternyata nongkrong di luar, atau pergi dengan seseorang yang tidak diceritakan.

Pertama-tama, tarik napas dulu. Jangan buru-buru menyimpulkan anak “nakal” atau “gagal dididik”. Kita perlu paham dulu, di fase ini anak sedang berjuang mencari identitas dan kemandirian. Dalam bahasa psikologi perkembangan, ini disebut fase individuasi — masa ketika anak mulai merasa, “Aku ingin dipercaya. Aku ingin mengatur hidupku sendiri.” Jadi ketika anak berbohong soal pergi ke mana atau dengan siapa, sering kali itu bukan semata-mata ingin menipu, tapi ingin mempertahankan ruang pribadinya yang ia rasa belum dipercaya.

Saya pernah baca satu penelitian menarik dari University of Virginia oleh Dr. Nancy Darling. Ia meneliti lebih dari 1.000 remaja dan menemukan bahwa 91% remaja mengaku pernah berbohong kepada orang tuanya, terutama soal aktivitas harian, pertemanan, atau ke mana mereka pergi. Alasannya bukan karena ingin berbuat jahat, tapi karena mereka takut kehilangan kepercayaan, takut dimarahi, atau merasa orang tua terlalu mengontrol.

Nah, di sinilah kita perlu membedakan antara “berbohong karena niat buruk” dan “berbohong karena ingin melindungi kebebasan.” Kalau yang kedua, berarti sinyal bahwa anak sedang butuh ruang dan rasa dipercaya.

Langkah pertama, pahami dulu situasinya dengan tenang. Jangan mulai dengan kalimat tuduhan seperti, “Kamu bohong lagi, ya?!” Coba ubah jadi pendekatan dialog, “Bunda dengar kamu tadi nggak ke tempat yang kamu bilang. Bunda nggak mau marah, bunda cuma ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?”
Nada seperti ini menenangkan sistem saraf anak, membuatnya lebih mudah terbuka.

Langkah kedua, setelah anak mengaku, jangan buru-buru ceramahi. Dengarkan dulu sampai selesai, bahkan kalau alasannya terdengar “aneh”. Kadang, yang mereka butuhkan bukan nasihat, tapi rasa dimengerti. Setelah itu baru arahkan dengan lembut, “Bunda ngerti kamu pengen dipercaya, tapi kejujuran itu justru cara terbaik buat bunda percaya penuh.”

Dan di sini, penting sekali menanamkan nilai spiritual yang dalam. Ajak anak merenung dengan kalimat lembut,
“Nak, mungkin bunda nggak tahu kamu pergi ke mana, tapi Allah tahu. Bahkan sebelum kamu melangkah, Allah sudah tahu ke mana kakimu akan pergi. Allah tahu isi hati, niat, dan langkah kita.”
Firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 4 menegaskan:

“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Kata-kata ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangunkan kesadaran spiritual — bahwa jujur bukan hanya soal aturan, tapi soal hubungan dengan Allah yang selalu melihat dengan kasih.

Dan terakhir, Ayah Bunda, yang paling penting bukan membuat anak takut berbohong, tapi membuatnya malu karena cinta. Malu karena ia tahu, orang tuanya percaya padanya, dan Allah mencintainya.

Jadi, kalau anak berbohong tentang ke mana ia pergi, jangan buru-buru mencabut kepercayaannya. Bangun lagi kepercayaannya lewat kedekatan. Karena kejujuran tidak tumbuh di tanah ketakutan, tapi di tanah kepercayaan dan kasih sayang.